Akhir2 ini aku sering berfikir mengenai banyak hal terutama tentang kesuksesan dan keberhasilan, semua timbul karena kondisi pekerjaan dikantor yang semakin tak kumengerti. mungkin karena aku yang tidak bisa menyesuaikan atas kondisi tersebut. Atau karena aku yang tidak pintar menghadapi semua kondisi itu. Dalam benakku muncul pertanyaan Apakah yang disebut orang pintar?? dan apakah aku sudah pintar?? ( orang pintar yang kumaksud bukan DUKUN / Paranormal ) Beberapa saat sebelum aku menulis ini aku sempat ngobrol dengan temen-temen dimana yang kami bahas mengenai banyak hal dan salah satunya adalah mengenai orang pintar. Maklum kami dikantor bisa dibilang orang yang kurang kerjaan jadi ya banyak ngobrolnya
. Menurutku kalo orang pintar itu dilihat pada masa-masa pendidikan di SD, yang mana disana akan kelihatan bakat masing-masing individu, karena kebanyakan saat itu belum terkontaminasi pergaulan dan lingkungan. ( herannya temen2ku kok meng iyakan aja, apa karena gak tau juga, apa karena tidak ingin beda pendapat denganku? wah kacau, jadi sok pintar dech aku
). Setelah tak pikir-pikir kayaknya enggak juga dech.. malah kayaknya salah besar, berhubung aku masih penasaran, akhirnya aku mencoba searching di internet lewat bang google, keywordnya “Orang Pintar” banyak juga sich yang bang google kasih tunjuk ke aku. disana aku banyak masuk ke situs/BLOG dan bahkan ada yang nyasar ke situs porno
hehehe… dari Googleing itu masih belum kutemukan jawaban atas apa yang aku cari. namun dari yang aku baca sedikit menambah pengetahuanku.
Orang pintar dalam masyarakat kita itu yang dianggap adalah hanya dokter, insinyur, Sarjana, dan ahli hukum. ( berarti Bill gate -Microsoft-,Dell,Hendri-Ford-,Thomas Alfa Edison, Liem Siu Liong -BCA group-.Adalah orang-orang Bodoh (karena tidak pernah dapat Sarjana)
Ahli filologi, ahli hermeunetika, ahli aktuaria, atau ahli ornitologi secara umum belum dianggap pintar. Paling hanya diakui oleh khalayak ramai maupun sepi sebagai sarjana, pokoknya terpelajar. Iya sih, soal istilah. Kalau “pakar burung” mungkin langsung mematuk peta persepsi orang karena ada kata “pakar” yang mencerminkan ekspertisi.
Jadi, siapa orang pintar? Bloggers? Mereka mah orang-orang usil sok tahu, kurang kerjaan pula.
hehehe..
Orang bodoh akan sulit dapat kerja,
akhirnya dia berbisnis.
karena dia Bodoh Agar bisnisnya berhasil,
tentu dia harus rekrut orang Pintar agar berhasil.
Walhasil Bosnya orang pintar adalah
orang bodoh.
Tapi saat bisnis orang bodoh maju,
orang pintar akan menghabiskan waktu
untuk bekerja keras dengan hati
senang,sementara orang bodoh
menghabiskan waktu untuk bersenang-
senang dengan keluarganya.
memang dari hasil serching yang aku lalukan tidak kutemukan jawaban apa itu orang pintar, dan malah jadi bingung dan timbul pertanyaan lagi, enak jadi orang bodoh apa orang pintar ya?? dan aku ini orang bodoh apa orang pintar??. sebenarnya saya malah setuju mengenai orang pintar adalah di salah satu iklan TV “Orang PINTAR Minum Tolak Angin” hehehe..
Berikut saya juga mengutip dari sebuah situs yang saya baca :
Kaum terpelajar-cerdas yang dikontrak dalam jangka pendek dapat melayani klien yang lebih luas, sehingga baik secara finansial maupun secara kepuasan profesional, semuanya lebih besar. Mereka bisa memberikan kontribusi yang lebih besar kepada masyarakat karena tidak terbelenggu oleh satu organisasi tertentu.
Begitulah salah satu kecenderungan yang terjadi di Indonesia dewasa ini. Kecenderungan ini sejalan dengan sejarah tenaga kerja di Eropa maupun di Amerika. Sebab pada tahun 2000 saja, jumlah tenaga kerja yang bekerja secara kontraktual di Eropa tercatat lebih dari 50% tenaga kerja, dan di Amerika lebih dari 43% tenaga kerja. Mereka ini adalah tenaga kerja dengan spesialisasi keahlian yang spesifik dan karenanya tidak mampu dipekerjakan oleh perusahaan formal yang selalu mencari cara untuk mengurangi biaya dan memaksimalkan keuntungan. Akibatnya, mereka mendirikan usaha konsultansi sendiri dan melayani klien yang beraneka ragam.
Jadi kecenderungan ini menunjang usaha-usaha perusahaan untuk reducing cost and maximizing profit. Ini tidak mungkin bisa dihalang-halangi. Akan makin banyak orang terpelajar-cerdas yang sulit mencari pekerjaan tetap dan harus mendirikan perusahaannya sendiri.
Apakah semua orang pintar akan mendirikan usaha sendiri? Tidak juga. Sebagian lagi memilih untuk masuk ke pasar dunia. Mereka tidak lagi melihat Indonesia sebagai sebuah ”pembatas”, karena bagaimana pun teknologi informasi telah membuat dunia menjadi borderless, tanpa batas yang tegas. Sejumlah pilot Indonesia memilih bekerja di perusahaan penerbangan Thailand. Sejumlah insinyur hebat memilih Malaysia sebagai tempat berkarya. Dan sejumlah dosen yang mumpuni, mengajar di universitas-universitas terkemuka sekitar Asia Tenggara dan Australia.
Lalu, apa yang ”tersisa” di perusahaan-perusahaan kita saat ini? Apakah tidak ada karyawan terpelajar-cerdas yang masih menjadi orang gajian?
Tampaknya masih ada dua kelompok besar yang bertahan menjadi karyawan di perusahaan-perusahaan kita. Kelompok pertama adalah mereka yang memiliki kecerdasan rata-rata saja. Meski pun mereka lulus dengan indek prestasi komulatif di atas 2,75, kecerdasan mereka tidak nampak dalam dunia kerja. Mereka hanya senang disuruh dan diperintah. Mereka tidak menunjukkan proaktivitas yang memadai untuk memperkembangkan diri lewat proses belajar berkelanjutan dari situasi-situasi kehidupan kerja sesehari. Inilah kelompok karyawan mayoritas yang jumlah populasinya mungkin 80% dari total karyawan.
Kelompok kedua adalah sarjana-sarjana cerdas-berbakat yang hanya menggunakan sebagian saja dari kecerdasannya dalam bekerja. Pada satu sisi mereka tidak memiliki pemimpin visioner yang mau mempercayai dan memberdayakan mereka untuk mengerjakan tugas-tugas yang lebih menantang, seperti merintis unit bisnis yang diperkirakan cocok dengan potensinya (dengan risiko gagalnya, tentu). Dan pada sisi lain mereka sendiri tidak menumbuhkan keberanian yang cukup untuk keluar dari zona kenyamanannya, sehingga bersedia menerima imbalan finansial yang lebih kecil asal ”pasti”. Mereka mengorbankan kecerdasan dan bakat mereka untuk kenyamanan semu yang memabukkan.
Saya hanya berusaha mencari jawaban dari pertanyaan yang ada dalam benakku. Walaupun sedikit melenceng dari judul, mungkin dari searching saya ini akan bermanfaat dan bisa memotivasi kita untuk lebih maju dan berkreasi tanpa harus selalu memikirkan apa yang menjadi kekurangan kita. Dan mungkin bisa melengkapi kekurangan yang ada dalam diri kita. AMIEN